Iklan

Pasien Corona Bertambah, Kurs USD Jadi di Atas Rp 14.000 Lagi

Selayar Pos
Kamis, 11 Juni 2020, 20:22 WIB Last Updated 2020-06-11T13:22:34Z
 Pasien Corona Bertambah, Kurs USD Jadi di Atas Rp 14.000 Lagi

SELAYAR POS ■ Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) pada penutupan perdagangan Kamis (11/6) sore mendapat tekanan. Akibatnya adalah pelemahan rupiah melampaui batas psikologis Rp 14.000 per USD.

Rupiah ditutup melemah 40 poin atau 0,29 persen dari sebelumnya Rp 13.980 per USD menjadi Rp 14.020 per USD

Direktur PT TRFX Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi di Jakarta mengatakan, penambahan kasus positif COVID-19 harian di Indonesia dalam dua hari terakhir yang mencetak rekor dikhawatirkan akan melebar ke sektor ekonomi dan keuangan.

"Dengan bertambahnya pasien corona tersebut maka prospek ekonomi ke depan dikhawatirkan bakal tak menentu. Oleh karena itu, wajar kalau pelaku pasar agak takut dan cemas," ujar Ibrahim.

Dari eksternal, Bank Sentral AS atau The Federal Reserve (Fed) telah mengumumkan hasil rapat bulanan. Bukan suku bunga acuan yang ditunggu oleh pelaku pasar, tetapi proyeksi Gubernur The Fed Jerome Powell soal prospek ekonomi ke depan.

Sesuai perkiraan, suku bunga acuan masih ditahan di level 0-0,25 persen, yang tidak akan berubah sampai akhir tahun, bahkan bisa sampai 2022. Namun yang membuat pelaku pasar agak cemas adalah sesuatu yang menyertainya.

Dalam rapat kali ini, Federal Reserve memperkirakan ekonomi AS terkontraksi 6,5 persen, jauh memburuk ketimbang proyeksi sebelumnya yang memperkirakan ada pertumbuhan 2 persen.

Kemudian tingkat pengangguran pada tahun ini diperkirakan 9,3 persen, lebih tinggi dibandingkan perkiraan sebelumnya yaitu 3,5 persen.

Rupiah pada pagi hari dibuka menguat di posisi Rp 13.925 per USD. Sepanjang hari rupiah bergerak di kisaran Rp 13.903 per USD hingga Rp 14.038 per USD.

Sementara itu, kurs tengah Bank Indonesia pada Kamis menunjukkan rupiah menguat menjadi Rp 14.014 per USD dibanding hari sebelumnya di posisi Rp 14.083 per USD. (sumber: antara/jp/R-01)


Komentar

Tampilkan

Berita Terbaru