Iklan

Petani Sulawesi Utara Siap Dukung Program Geratieks Kementan

Selayar Pos
Rabu, 15 April 2020, 12:09 WIB Last Updated 2020-04-15T05:09:14Z

SELAYAR POS ■ Meski ancaman penyebaran pandemik virus Covid-19 belum mereda, petani di Sulawesi Utara masih terus melaksanakan panen benih jagung hibrida hasil rakitan anak bangsa varietas JH 37 seluas 20 ha di Kec. Pusomaen, Minahasa Tenggara dan di Kec. Likupang Timur, Minahasa Utara.

Dijadwalkan, Panen raya skala luas ini diperkirakan akan dilakukan hingga Mei mendatang dengan total luas panen keseluruhan seluas 253,4 ha.

Direktur Perbenihan, Ir. Mohammad Takdir Mulyadi, MM dalam kesempatan kunjungan ke lokasi benih jagung hibrida di KT. Anugerah, Desa Suwaan, Kalawat, Kab. Minahasa Utara menyampaikan bahwa panen calon benih jagung hibrida tersebut nantinya disamping untuk memenuhi kebutuhan benih sendiri juga diorientasikan untuk komoditas ekspor guna mendukung program peningkatan tiga kali ekspor (GERATIEKS) yang telah dicanangkan oleh Menteri Pertanian, Takdir meminta agar semua pihak secara bersama-sama untuk terus memacu dan mendorong rencana ekspor benih jagung hibrida antara lain ke Piliphina.

Dijelaskan oleh Direktur Perbenihan, Pada awal April ini sebenarnya akan dilakukan proses penanandatanganan kerjasama company to company dengan Philmico Food Corporation. Contoh benih 1 kg dan pakan ternak 1 kg sudah dikirim ke Philmico Food Corporation disepakati minimal 20 ton untuk benih dan 500 ton untuk pakan ternak per bulan.

Contoh benih sudah dilengkapi ijin dari Karantina Manado, benih sudah dikirim dan diuji oleh CIGS (BPSB Philipina) dinyatakan lulus uji. Permintaan dari CIGS agar ada satu tenaga pendamping untuk melatih tata cara budidaya yang baik. Namun proses yang sudah berjalan tersebut terhenti, karena terkendala dengan adanya penyebaran pandemic virus Covid-19 saat ini. 

Hal ini senada yang disampaikan oleh Staf Khusus Menteri Pertanian, Prof. Dr. Ir. Imam Mujahidin Fahmid, M. TDev dalam setiap kesempatan, bahwa sesuai dengan arahan Menteri Pertanian, Kementan akan terus mendorong pengusaha dan eksportir agar melipatgandakan lalu lintas ekspor pertanian menjadi tiga kali lipat atau Geratieks. Hal ini guna memperbaiki neraca dagang yang selama ini tengah defisit, ujarnya penuh semangat. (13/4)

Di kesempatan yang berbeda, Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Provinsi Sulawesi Utara, Ir. Novly G. Wowiling, M.Si merasa bangga menjadi Provinsi terpilih atas program Kementan, yang mana selalu mendorong untuk geliat tumbuhkembangnya penangkar kecil untuk menjadi produsen benih jagung yang lebih maju, tangguh dan modern.

"Hasil yang dicapai petani sungguh memuaskan terlebih mendukung produk rakitan anak negeri, yang nantinya bisa menjadi tuan rumah di negerinya sendiri," harapnya.

Dari hasil evaluasi kami, hasil panen benih jagung hibrida di Provinsi Sulawesi Utara yang sampai saat ini masih terus berlangsung total rata-rata 6, 24 ton/ha tongkol kering sawah. Hasil tertinggi di Kab. Minahasa bisa mencapai 7, 1 ton/ha. Dijamin tak perlu khawatir tidak ada benih jagung hibrida tahun ini, karena hasil panen benih jagung hibrida melimpah. Meski diserang ulat grayak tak berpengaruh signifikan, dari luas panen 253,4 ha, diperkirakan calon benih berkisar 525 ton , tukas Novly.

Meldy Rotulung (Ketua KT Makapihok), pria berusia 49 tahun ini telah membuktikan berhasil menjadi produsen benih jagung hibrida rakitan anak bangsa.  Pengalaman dia pernah menjadi produsen padi dan kedelai, kali ini banting setir menjadi produsen benih jagung hibrida, karena dirasa lebih menguntungkan.

"Tak tanggung-tanggung, dengan bantuan program korporasi perbenihan jagung hibrida dari Kementan, bisa menghasilkan profit bersih hingga Rp 20-24 juta per ha dibanding tanam jagung konsumsi. Ada peningkatan 100 %," kata Meldy.

Demikian juga ungkap Roy Salmon Pitoy (Ketua KT Anugerah) di Likupang Timur, meski di lahan marginal eks lingkar tambang, masih bisa menghasilkan benih jagung hibrida, mengangkat kesejahteraan petani, menciptakan lapangan kerja selain tambang. Dirinya optimis, disamping dapat memenuhi kebutuhan benih wilayah Sulawesi Utara bahkan untuk Ekspor, ungkapnya.

“Kesuksesan penangkaran benih ini tentu tidak lepas dari pendampingan dan pengawalan dari seluruh stake holder terkait baik Pusat, daerah, petugas lapangan PBT, POPT dan mitra (PT. Twinn)”, papar Kepala Balai Penelitian Tanaman Sereal, Dr. Muhammad Azrai, SP, MP. Harapannya, kesuksesan ini, bisa direplikasi untuk petani di provinsi lain. Ketekunan dan pengalaman petani penangkar menjadi kunci kesukseksannya, tambahnya.

Retno Setianingsih
Komentar

Tampilkan

Berita Terbaru