Pengangkatan Harta Karun Di Selayar Diduga Masuk Kantong Pribadi, Tapi Kerugiannya Dibebankan Kepada Negara

Iklan Semua Halaman

Loading...

Header Menu

Pengangkatan Harta Karun Di Selayar Diduga Masuk Kantong Pribadi, Tapi Kerugiannya Dibebankan Kepada Negara

Selayar Pos
Selasa, 29 Oktober 2019
Warga Selayar  https://www.selayarpos.com/2019/10/harta-karun-dinasti-tsun-diangkat-dari.html

SelayarPos.Com ■ Perlindungan yang lemah terhadap keberadaan situs-situs di bawah air memicu banyaknya kasus pencurian barang bersejarah seperti kapal-kapal karam yang isinya dikuras, oleh mereka yang mencari keuntungan dari perdagangan barang antik illegal.

Sejumlah pemerhati dan aktivis di Selayar ini masih terus membincangkan keberadaan kapal karam di perairan pantai Tile-tile yang baru baru ini diangkat.

Namun sampai sekarang masih tidak jelas, siapa yang mengangkat dan dengan tujuan apa? Pemerintah Daerah juga tidak mengakui bahwa pengangkatan harta karun dilokasi BMKT Tile Tile mempunyai izin sesuai peraturan pengangkatan BMKT di negara ini.

Menurut mereka seharusnya pengangkatan barang-barang dari bawah laut dilokasi itu punya nilai yang bisa dimanfaatkan oleh pemerintah untuk kepentingan ekonomi masyarakat Selayar, mengingat nilai ekonomis dari BMKT Tile-Tile diperkirakan mencapai angka Trilunan rupiah.

Selain itu lokasi BMKT Tile Tile dapat menjadi daya tarik sendiri untuk mengundang wisatawan dalam dan luar negeri. Apalagi Selayar sekarang ini mulai banyak diminati untuk dikunjungi oleh wisatawan.

"Kita punya beberapa titik adanya kapal karam, mungkin akan bagus jika itu dikelola dengan kawasan konservasi laut daerah sehingga kawasan kapal karam bisa jadi pendukung objek pariwisata laut di daerah kita," jelas Jusri, salah seorang penggiat pariwisata bahari di Selayar.

Menurutnya, potensi itu akan hilang karena lemahnya pengawasan terhadap keberadaan benda bersejarah seperti kapal-kapal karam.

BACA JUGA: Harta Karun Dinasti Tsun Diangkat Dari Muatan Kapal Tenggelam Bikin Geger 

Kelemahan tersebut bahkan berdampak pada hilangnya beberapa kapal karam atau benda-benda di dalamnya, sehingga potensi keuntungan ekonomi bagi negara pun turut sirna.

Selain menghilangkan potensi keuntungan bagi daerah kita, raibnya benda dalam kapal karam juga dianggap turut merusak ekosistem bawah laut.

Banyak bangkai kapal dan benda di dalamnya telah menyatu dengan terumbu karang, atau menjadi rumah bagi hewan laut.

Pengambilan barang-barang tersebut juga turut mengganggu kelestarian ekosistem di bawah laut.

Jadi keuntungan atas pengambilan benda kapal karam disinyalir kuat masuk ke kantong pribadi, tapi kerugiannya dibebankan ke negara, padahal kalau manajemennya lebih baik beberapa keunikan kapal karam justru bisa mendatangkan turis ke Selayar. (Lo2).