Syamsuddin Alimsyah Tanamkan Nilai Integritas ke Peserta Sekolah Pengawasan Partisipatif

Iklan Semua Halaman

Loading...

Header Menu

Syamsuddin Alimsyah Tanamkan Nilai Integritas ke Peserta Sekolah Pengawasan Partisipatif

Selayar Pos
Kamis, 26 September 2019
Syamsuddin Alimsyah Tanamkan Nilai Integritas ke Peserta Sekolah Pengawasan Partisipatif

SELAYARPOS.COM ■ Syamsuddin Alimsyah, Peneliti Senior KOPEL Indonesia tanamkan nilai integritas kepada peserta sekolah kader pengawasan partisipatif Bawaslu Jawa Barat, di Wisma Pendawa Kemensos RI, Cianjur Jawa Barat, Rabu (25/09/2019) saat tampil sebagai narasumber.

Nilai-nilai integriti dan moraliti adalah hal utama ditanamkan dalam diri ketika ingin menjadikan bagian dari pengawal  demokrasi yang lebih baik.

"Saya mengapresiasi Bawaslu yang cerdas dengan program sekolah kadernya. Ini adalah bagian dari desain jangka panjang guna mempersiapkan pentolan pentolan pengawas pemilu. Kalian adalah nantinya akan jadi da'i da'i pemilu. Kalian adalah kader pejuang demokrasi. Kader yang akan mengikrarkan diri semaksimal mungkin akan mengawasi setiap pemilu agar melahirkan pemimpin yang berintegritas. Bukan pemimpin yang culas mengandalkan isi tas," tegas Syamsuddin di sambut gemuruh tepuk tangan peserta.

Syam yang juga pendiri Kampong Demokrasi di Bogor banyak berbagi tips kepada peserta bagaimana orang orang yang bergerak dalam bidang advokasi harus banyak berjejaring keluar. Tentu juga adalah prasyarat kapasitas dan integritas. 

"Teman teman harus siap menghadapi situasi di lapangan yang cukup beragam. Di sisi lain sebagian masyarakat masih pragmatis, dilain pihak ada juga senang memberi label gerakan ini sok idealis," ujarnya menghimbau persoalan tersebut tantangan yang harus dihadapi.

"Saya selama ini punya prinsip menjawab tantangan tersebut dengan karya. Dengan demikian kepercayaan akan tumbuh," kata Syamsuddin.

Lebih lanjut dikatakan Syamsuddin, kita semua berharap usai Kegiatan ini pengawasan partisipatif untuk pemilu yang lebih baik bisa lebih solid sehingga mata rantai kejahatan demokrasi melalui pemilu bisa kita putuskan minimal kita minimalisir dengan gerakan-gerakan kita nantinya.(*)