Polri: Pelaku Rusuh Di Wamena Bukan Warga Asli Lembah Baliem

Iklan Semua Halaman

Loading...

Header Menu

Polri: Pelaku Rusuh Di Wamena Bukan Warga Asli Lembah Baliem

Selayar Pos
Senin, 30 September 2019
 Polri: Pelaku Rusuh Di Wamena Bukan Warga Asli Lembah Baliem

SELAYARPOS.COM ■  Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Dedi Prasetyo mengatakan bahwa dari Hasil penyelidikan sekaligus pemetaan yang dilakukan oleh Polri terungkap bahwa yang melakukan pembakaran dan tindak pidana kekerasan di Wamena, Jayawijaya bukan orang asli atau penduduk Lembah Baliem.

Hal itu disampaikan Brigjen Dedi Prasetyo terkait perkembangan terkini yang terjadi di Wamena, Papua, kepada wartawan pada Minggu (29/9/2019).

“Pelaku pembakaran bukan penduduk asli Wamena (orang Lembah Baliem). Mereka  justru banyak membantu memberi perlindungan kepada para pendatang dengan mengamankan di rumah warga maupun gereja,” katanya.

Menurut Dedi, kepala suku Lembah Baliem (Wamena) Agus Hubi Lapago secara khusus meminta para pendatang untuk tidak mengungsi karena sangat yakin masyarakat asli Wamena sangat mencintai masyarakat Papua pendatang.

“Karena mereka yakin para perusuh adalah kelompok diluar Wamena,” imbuhnya.

Dedi juga meluruskan kabar yang beredar, bahwa sasaran kekerasan tidak hanya ditujukan kepada etnis tertentu saja yang tinggal disana.

Guna menghindari hal yang tidak diinginkan, saat ini, aparat gabungan TNI dan Polri telah melakukan proses evakuasi bagi warga pendatang menggunakan berbagai moda transportasi termasuk pesawat Hercules ke beberapa kota di Papua antara lain ke Jayapura.

Dari kesigapan aparat TNI dan Porli berhasil mengevakuasi 3.213 orang ke Kota Jayapura. 543 orang diantaranya masih berada di tempat-tempat pengungsian antara lain di Lanud Silas Papare 101 orang, Rindam Jayapura 104, YON 751 172 orang, Paguyuban Minang ada 106 orang dan di Musollah Attaqwa ada 66 orang.

“Polri menjamin keamanan di Wamena, tidak benar jika saat ini kondisi di Wamena tidak terkendali,” tegasnya.

Selanjutnya, Polri mengajak semua suku yang ada di Papua untuk bersama-sama menjaga kedamaian di Papua dengan terus meningkatkan rasa persaudaraan dan sebangsa sehingga tidak mudah diprovokasi oleh pihak luar yang menginginkan terjadinya perpecahan dan kerusuhan di bumi Cendrawasih. (**)