Cina Dituding Ambil Paksa Organ Tubuh Muslim Uighur

Iklan Semua Halaman

Loading...

Header Menu

Cina Dituding Ambil Paksa Organ Tubuh Muslim Uighur

Selayar Pos
Jumat, 27 September 2019
 Cina Dituding Ambil Paksa Organ Tubuh Muslim Uighur

SELAYARPOS.COM  ■ Cina dituding sengaja mengambil organ anggota kelompok minoritas  sebagai bagian dari “tindakan negara” yang merupakan indikasi genosida. Sebagian dilakukan saat pemilik organ masih hidup.

Dikutip dari DailyMail kemarin, ratusan ribu orang diperkirakan meregang nyawa akibat praktik serupa. Demikian laporan Dewan Hak Asasi Manusia PBB awal pekan ini. Sebagian besar organ didapat dari anggota  Falun Gong yang dilarang serta warga muslim Uighur.

Hamid Sabi, juru bicara Tribunal China, panel independen yang dibentuk untuk menyelidiki masalah ini mengatakan, praktik mengambil paksa organ telah berlangsung selama bertahun-tahun dan kemungkinan masih berlangsung hingga saat ini.

"Korban demi korban, kematian demi kematian, hati dan organ-organ lainnya diambil dari orang-orang yang masih hidup. Orang-orang yang tidak bercela, tidak berbahaya ini menjadi korban salah satu kekejaman massal terburuk abad ini," ujar Sabi.

Salah satu kegiatan anggota Falun Gong.

Pihak Beijing sendiri berulang kali membantah tuduhan  para peneliti lembaga hak asasi manusia dan cendekiawan yang menyatakan Cina secara paksa mengambil organ dari tahanan.  Dikatakan jika praktik  menggunakan organ dari tahanan yang dieksekusi tak lagi dilakukan sejak 2015.

Namun Sabi yang juga penasihat China Tribunal mengatakan pengambilan organ secara paksa dilakukan di seluruh Cina dengan  skala yang signifikan dalam tahun-tahun terakhir ini.

Ia menambahkan “sumbangan organ” dilakukan dengan target utama Falun Gong. Namun, umat muslim Uighur dan kelompok minoritas lainnya pun disebut ikut menjadi sasaran.

Sebagai bukti, China Tribunal merujuk pada waktu tunggu yang sangat singkat untuk transplantasi organ di rumah sakit Negeri Tirai Bambu. Dengan jumlah rata-rata operasi transplantasi yang dilakukan di Cina, tidak mungkin ada  cukup donor yang memenuhi syarat untuk  kategori  donor sukarela.

China Tribunal juga mengatakan, sejumlah fasilitas dan tenaga medis yang terkait operasi transplantasi didapati  di daerah yang tidak memiliki skema donor sukarela. Sabi menyebut fakta ini menunjukkan organ diambil dengan paksa. Dengan tidak adanya bukti yang bertentangan, ada kemungkinan pengambilan organ berlanjut hingga hari ini.

Sabi juga menegaskan, “Transplantasi organ untuk menyelamatkan hidup adalah kemenangan ilmiah dan sosial. Tapi membunuh donor itu kriminal.”

Falun Gong yang disebut sebagai salah satu sasaran pengambilan organ merupakan kelompok spiritual berbasis meditasi yang dilarang sejak 20 tahun lalu. Tepatnya setelah 10.000 anggota menggelar aksi damai di kompleks pemerintahan pusat di Beijing. Sejak itu ribuan anggota Falun Gong  dipenjara.

Geoffrey Nice, ketua majelis China Tribunal pada kesempatan yang sama menyatakan, pemerintah, lembaga PBB dan pihak-pihak yang terlibat dengan operasi transplantasi tak bisa lagi menutup mata terhadap bukti yang tidak bisa dikesampingkan ini.

Nice yang menjadi jaksa penuntut  persidangan mantan presiden Yugoslavia Slobodan Milosevic mengatakan, temuan pengadilan membutuhkan tindakan segera. “Ketidakpastian ketika semua entitas ini  menganggap kasus terhadap (Cina) ini tidak terbukti, sudah lewat,” katanya.

Penerima transplantasi baik warga Cina maupun pasien luar negeri sama-sama harus mengeluarkan biaya besar, tapi dengan waktu tunggu yang sangat berkurang. China Tribunal bulan Juni lalu menyebut temuannya yang terakhir merupakan indikasi genosida, tapi secara keseluruhan dianggap belum cukup untuk membuat keputusan positif.

Sementara itu juru bicara Kedutaan Besar Cina di London kepada Thomson Reuters Foundation mengatakan, peraturan pemerintah menetapkan  donasi organ manusia harus dilakukan secara sukarela dan tanpa pembayaran apa pun. (Sumber: DailyMail /AFP)